My First Solo Traveling

Kalau saya perhatikan, dari beberapa tahun kebelakang sampai sekarang, solo traveling merupakan salah satu style traveling yang mulai digandrungi selain backpacking. Yang mungkin lebih hits adalah solo traveling plus backpacking. Ditambah lagi dengan maraknya hostel yang murah dan situs-situs web khusus untuk booking hostel yang membuat solo travelers lebih mudah untuk traveling. Saya pertama kali solo traveling sekaligus backpacking waktu ke Jepang akhir Maret kemarin.

Beberapa teman bilang:

“Emang kamu bisa bahasanya?”

“Nggak takut tersesat?”

“Serius? Gila lu! Autis!”

Apapun yang orang bilang, saya tetap teguh dengan pendirian. That’s what travelers do. Menurut saya, solo traveling ke Jepang lebih mudah dari mendaki gunung dan melewati lembah. Ya iya lah, orang saya cuma keliaran di kota. Jepang negaranya aman dan transportasi mudah. Cukup pelajari peta dan rute subway, juga jeli dalam melihat papan petunjuk. Di Jepang sudah banyak kok papan petunjuk berbahasa Inggris dan berhuruf latin. Kalo gak bisa bahasa Inggris, masih ada bahasa Mandarin dan Korea. Untuk bahasa, alhamdulillah saya dikaruniai kemauan untuk mempelajari bahasa Jepang sejak SMP. Saya tidak mempermasalahkan solo traveling ke Jepang, karena selain alasan diatas, Jepang merupakan negara yang benar-benar ingin saya kunjungi, cita-cita sedari remaja tanggung, negara yang saya ingin intim dengannya.

Saya nggak tiba-tiba pengen ikut hits dengan solo traveling plus backpacking. Saya hanya menyesuaikan dengan keadaan. Ya abis gimana lagi, asalnya mamah mau ikut tapi gak jadi karena harus nabung buat ke haji, temen pun gak ada yang berminat buat ke Jepang atau mungkin belum ada rezekinya. Jadi lah saya pergi sendiri ke Jepang. Terus kenapa saya backpacking? Pertama, saya nggak punya koper, punya nya ya cuma tas backpack yang sudah menemani beberapa perjalanan saya. Kedua, saya kebayang kalo di perjalanan menarik-narik dan menggotong-gotong koper itu capek banget dan menghambat mobilitas, terbukti ketika saya menyaksikan beberapa traveler di Jepang terlihat riweuh alias ribet dengan koper-koper mereka yang segede gaban, dan catet, kalo di Jepang gak semua stasiun subway ada eskalator dan lift nya kecuali di stasiun besar. Alhasil saya berangkat dengan sebuah backpack, bukan backpack khusus traveling yang jaman sekarang dipake ngantor juga, tapi cukup besar kapasitasnya untuk perjalanan selama 7 hari, dan sebuah tas selempang kecil merk outdoor lokal. Waktu pulang pun hanya ditambah satu tote bag besar berisi oleh-oleh, so simple.

Solo traveling tentu ada plus minus nya. Plus nya adalah saya bisa merasakan pengalaman yang tak terlupakan, saya bisa pergi kemana saja saya mau, saya bisa menambah atau mengurangi itinerary sesuai keadaan, saya bisa menikmati sesuatu dengan lebih fokus tanpa ada gangguan dan yang utama adalah melatih kemandirian. Minusnya, saya nggak bisa berbagi kebahagiaan, nggak ada yang fotoin (sedih), nggak ada teman ngobrol, tapi kalau di hostel ada traveler lain yang bisa diajak ngobrol, makanya saya lebih memilih hostel.

Solo traveling plus backpacking sudah terlaksana, tapi akankah saya melakukannya lagi? Mungkin, tapi tentu saja ke negara atau tempat yang sangat ingin saya kunjungi dan yang aman damai sentosa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s