Japan Day 1 – Haneda International Airport

26 Maret 2016
Forecast: Mostly cloudy, 5º – 9º C

Jam di tangan menunjukkan pukul 22.00 waktu Jepang. Pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara internasional Haneda, Tokyo. Alhamdulilllah, akhirnya saya sampai juga di Jepang. Tapi rasanya masih kurang gereget. Hari sudah gelap, saya tidak bisa melihat pemandangan apapun kecuali lampu runway dan lampu-lampu bandara lainnya. Suhu di luar menurut pengumuman yang pilot berikan sekitar 9 derajat celsius. Saya membayangkan, dengan suhu segitu saya bisa menaruh daging dan ikan tanpa takut membusuk. Setelah keriuhan yang biasa terjadi di kabin ketika pesawat berhenti dan parkir, akhirnya saya keluar dari pesawat untuk menaiki bus menuju terminal bandara. Angin teluk Tokyo berhembus kencang menerpa wajah dan tubuh saya, seperti memberi ucapan selamat datang di Jepang. Brrrr! Dinginnya belum pernah saya rasakan sebelumnya. Seperti masuk ke sebuah kulkas raksasa dengan angin yang kencang. Badan bergetar hebat, muka dan telinga seperti ditampar tangan-tangan dingin yang tidak terlihat. Menurut ramalan cuaca, suhu dan cuaca di Tokyo pada awal musim semi ini berubah-ubah dengan cepat. Beberapa hari yang lalu cukup hangat, tapi hari ini cuaca drop seperti di penghujung musim dingin. Saya baru menyadari kalau ini adalah pancaroba nya Jepang.

Saya setengah berlari menuju bus. Akhirnya tiba didalam bus yang hangat, tapi suhu dingin masih melekat di badan yang membuat saya menggigil, tidak hanya saya, beberapa travelers berhijab yang saya duga dari Malaysia pun menggigil. Bus pun membawa penumpang ke terminal. Saya tiba di terminal kedatangan yang hangat. Segera saya menuju imigrasi dan karena bawaan saya hanya sebuah backpack dan tas selempang kecil, mobilitas saya tidak terhambat dan saya bisa bergerak cepat menuju antrian yang lebih pendek di loket imigrasi. Begitulah untungnya jadi backpacker. Banyak petugas imigrasi yang memberikan pengarahan kepada penumpang yang baru turun untuk mengantri, saling bersahutan dengan bahasa Jepang dan Inggris ke Jepang-Jepangan. Saya sempat memperhatikan beberapa diantaranya adalah wanita yang manis walaupun bukan artis. Akhirnya giliran saya untuk di periksa imigrasi. Petugas imigrasi wanita berwujud seperti Jaiko adiknya Giant pun menanyai saya “Berapa hari tinggal di Jepang?”. Saya balas “Satu minggu mbak”. Selanjutnya bertanya dengan muka jutek “Mau kemana aja di Jepang?”. Saya membalas “Ke Tokyo, Kyoto, Osaka”. Petugas itu pun mendengus dan tersenyum kecut. Benar-benar mirip Jaiko. Namun akhirnya saya diizinkan tinggal di Jepang selama 15 hari.

Setelah saya selesai berurusan dengan si Jaiko, saya langsung melakukan koneksi ke pocket wifi yang saya sewa dari Bandung lalu menghubungi keluarga dan kenalan saya di Osaka, memberitahukan bahwa saya sudah sampai dengan selamat dan bertemu Sora Aoi. Keluar dari imigrasi, saya agak terperangah, inikah Jepang? Dengan orang-orangnya yang modis ber-jas, mantel, atau jaket, cewek-ceweknya cute! Semua orang bermata sipit (termasuk saya) menjadi pemandangan umum disini dan sejenak saya sadar, saya baru berada di pintu masuk Jepang. Mencium bau tak sedap, yang berasal dari tubuh saya, saya memutuskan untuk mandi di sini saja. Dengan harga 1000 yen untuk 30 menit (termasuk mahal, tapi demi penampilan agar dapat memikat cewek Jepang) saya mandi di sebuah tempat mandi khusus yang awalnya saya bayangkan seperti tempat mandi umum di kolam renang. Setelah melakukan pembayaran dan mendapat kunci, saya masuk ke sebuah lorong yang di kanan-kirinya terdapat pintu bernomer menuju kamar mandi. Ternyata kamar mandinya mirip kamar mandi di budget hotel, hanya ada tempat ganti berbarengan dengan wastafel dan kaca, dan ruangan shower dengan pintu geser. Ruangan showernya kecil untuk ukuran badan saya, tapi cukup nyaman dan privat dengan fasilitas seperti shower air panas / dingin, sabun, shampoo, conditioner, hair dryer, handuk biasa yang lembut, handuk panas plus voucher minuman yang dapat ditukar di cafe sebelah. Setelah mandi dan badan terasa segar, saya menukarkan voucher minuman yang ternyata dapat memilih 3 jenis minuman yaitu soft drink, oolong tea dan kopi. Saya menukarnya dengan oolong tea dan ternyata pilihan saya salah karena teh nya tidak manis.

img_3629

IMG_3618

IMG_3621
International Departures bandara internasional Haneda

Bandara internasional Haneda cukup besar, tapi tidak membuat saya tersesat karena banyak tersedia papan petunjuk dan denah bangunan. Berada disana, saya tidak merasa sedang berada di bandara, tapi seperti sedang berada di mall karena di lantai 4 terdapat tempat perbelanjaan yang berdesain Edo kuno dengan lampion dan arsitektur kayu-kayu, sayangnya kebanyakan sudah tutup, untungnya disini terdapat counter makanan 24 jam. Saya memutuskan untuk makan malam di Yoshinoya. Teringat belum solat, saya bertanya ke information desk tentang prayer room. Setahu saya memang ada, tapi tidak tahu persisnya. Prayer room tersebut berada di Departure Lobby lantai 3. Ketika hendak masuk, tekan dulu tombol agar pengawas dapat membukakan pintu. Prayer room nya cukup besar dan sangat manusiawi, kira-kira sebesar kamar tidur dan sangat bersih. Lantainya dilapisi karpet, terdapat tempat wudhu dengan tempat duduk, dan loker sepatu. Sayangnya tidak ada penunjuk arah kiblat. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Perut sudah kenyang, ibadah pun sudah terlaksana, saatnya mencari tempat istirahat lagi. Saya pun naik ke lantai 5 yang ternyata terdapat observation deck. Observation deck ini berada di luar bangunan yang dipisahkan oleh 2 buah pintu yang menurut saya untuk mencegah udara dingin masuk. Lagi-lagi angin dingin menerpa saya saat berada disana. Sejenak saya menguatkan diri dan menghirup udara dalam-dalam. Rasanya sangat berbeda dari udara yang pernah saya hirup. Segar dan tak berbau seperti udara yang bercampur uap air es.

IMG_3625
Pengumuman
IMG_3627
Ngaso dulu

Balik lagi ke tujuan semula yaitu mencari tempat istirahat. Ternyata hampir semua bangku penuh ditiduri traveler kemalaman. Sulit juga mencari tempat istirahat di bandara internasional tengah malam seperti ini. Akhirnya saya mendapatkan bangku kosong yang cukup empuk di terminal kedatangan. Itu pun hampir semuanya penuh terisi. Tidur di bandara Haneda ternyata sangat lazim dilakukan, dan sangat aman karena banyak polisi yang berpatroli. Tetapi sebagai traveler sebaiknya selalu waspada dan menjaga barang bawaan. Karena jet lag atau entah kenapa, saya jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Kesimpulan saya untuk bandara internasional Haneda:

  • Bandara internasional Haneda bisa ditiduri. Maksudnya bisa tidur di bangku-bangku panjang yang tersebar di bandara.
  • Fasilitas di bandara Haneda sangat lengkap. Selain itu bandaranya bersih dan aman.

Lain kali saya pengen balik lagi ke bandara Haneda menjelajahi toko-tokonya yang sepertinya menarik, karena di Jepang tidak ada sesuatu yang tidak menarik.

Total pengeluaran hari ke 1:

  • Shower room = ¥ 1030
  • Yoshinoya = ¥ 630
  • TOTAL = ¥ 1660

Baca kelanjutannya: Japan Day 2

Advertisements

4 thoughts on “Japan Day 1 – Haneda International Airport

  1. Menurut saya Haneda lebih bagus dari Narita dan Kansai. Cuma waktu itu rutenya dari Osaka dulu baru pulang lewat Narita. Di Kansai juga bisa bermalam di kursi empuk sebelah check in ANA dan Jetstar, dan tidak ada pemeriksaan seperti di Changi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s